Al-amin dijantungku
Tertatih-tatih menelusuri kegundahan
Yang berlapik-lapik diantara kebekuan cakrawala
Lama sekali ia lintasi semak yg terpampang
Dilangit-langit jiwa
Satu persatu
Langkah demi langkah
Kepastian demi kepastian
Anggukan demi anggukan
Menghantam badai yang terengah-engah di tengah
luka
Menggores hati
Belantara adalah air mata yg kueja
Pada bukit-bukit yg runcing dan curam
Pada suatu saat menggores hari-hari
Yang bertebaran mencari mata angin tiba
Al-amin dijantungku
Adalah matahari yg menepi seperti gerhana
Padahal
Berjuta-juta nyawa menggigil
Nyaris sekarat dan binasa dititik-titik
fatamorgana
Keabadian yang begitu lama melayang
adalah sejarah panjang yg terbang
entah !
kapan
matahari mulai menguning
seperti bukit-bukit pd ladang sebuah bukti
bahwa telah lama purnama diam
ketenangan yg di idam-idamkan !
Al-amin dijantungku
adalah terkelupas darah anyir
membusuk pd tong-tong kegelapan
Baunya terkapar
entah kapan akan hilang......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar