Minggu, 01 April 2012

Al-Amien di Jantungku


Al-amin dijantungku
Tertatih-tatih menelusuri kegundahan
Yang berlapik-lapik diantara kebekuan cakrawala
Lama sekali ia lintasi semak yg terpampang
Dilangit-langit jiwa

Satu persatu
Langkah demi langkah
Kepastian demi kepastian
Anggukan demi anggukan
Menghantam badai yang terengah-engah di tengah luka
Menggores hati

Belantara adalah air mata yg kueja
Pada bukit-bukit yg runcing dan curam
Pada suatu saat menggores hari-hari
Yang bertebaran mencari mata angin tiba

Al-amin dijantungku
Adalah matahari yg menepi seperti gerhana
Padahal
Berjuta-juta nyawa menggigil
Nyaris sekarat dan binasa dititik-titik fatamorgana
Keabadian yang begitu lama melayang
adalah sejarah panjang yg terbang

entah !
kapan
matahari mulai menguning
seperti bukit-bukit pd ladang sebuah bukti
bahwa telah lama purnama diam
ketenangan yg di idam-idamkan !

Al-amin dijantungku
adalah terkelupas darah anyir
membusuk pd tong-tong kegelapan
Baunya terkapar
entah kapan akan hilang......!










Tidak ada komentar:

Posting Komentar