Kenapa Guru slalu
jadi Kambing hitam ?
(sebuah koreksi bagi
penulis, setelah sekian lama menjadi pendidik)
Lembaga kependidikan merupakan salah satu model,
sarana, referensi pembelajaran yang dijadikan acuan bagi guru maupun calon guru
dalam mengemban tugas dan kewajibannya sebagai tenaga pendidik. Diupayakan
dengan adanya lembaga kependidikan guru maupun calon guru dapat meningkatkan
wawasan tentang kependidikan dari waktu ke waktu yang selalu dinamis berkembang
seiring perkembangan Ilmu Pengetahuan, teknologi, dan informasi, terlambat
sedikit saja guru dalam mengakses perkembangan pendidikan dan on act, terutama
dalam tata cara menjadi pendidik yang kompeten, bisa-bisa guru
akan tergelincir atau set-back dalam setiap pembelajaran yang diberikan kepada
siswanya. Seorang pendidik paling tidak harus selalu dapat memberikan
illustrasi, ilham, serta kontribusi bagi guru yang lain lebih-lebih kepada
murid dalam mempersiapkan mode-style
pembelajaran substantif plus dengan pendekatan PAKEMInya yang
bisa mengantarkan siswa pada tercapainya prestasi terbaik, terbaik tidak hanya
dalam konteks jasadiyah semata, tetapi juga harus dipahami dalam perspektif
twin aut comenya (ukhrawi dan dunyawi).
Kondisi riil pendidikan dan pendidik akhir-akhir
ini begitu memprihatinkan, keadaan ini didasarkan pada survei tingkat
keberhasilan pendidikan di Indonesia berada pada peringkat 122 di antara 130
negara di dunia. Keberhasilan ini tentu saja masih jauh dari harapan kita
bersama, Indonesia masih
jauh tertinggal di belakang, walaupun sebenarnya Indonesia menyimpan mutiara manikam
siswa-siswa terbaik dunia karena geniusitasnya, tentu cukup menentramkan buka
?!. Fenomena tertinggalnya secara universal pendidikan kita diatas ratusan juta
anak-anak Indonesia
disebabkan karena pendidikan kurang mendapatkan porsi dan prioritas dari
pemerintah dan masyarakat (juga guru) untuk betul-betul ditangani secara komprehensif dan
berkesinambungan. Guru dalam hal ini memiliki kontribusi yang besar atas merosotnya
peningkatan dan keberhasilan pendidikan di Indonesia khususnya di kabupaten
Pamekasan. Walaupun sekali lagi penulis kemukakan bahwa Indonesia adalah negaranya anak-anak yang genius
yang sudah diakui dunia (baca jawa pos bulan Nopember 2011) Ada
beberapa faktor sehingga guru bisa dijadikan kambing hitam dalam kemerosotan
pendidikan, antara lain ; SDM guru yang ?, kompetensi, skill, komitemen,
etos kerja, kredibelitas, disiplin, moralitas, kreatifitas, serta inovasi
guru yang kian stagnan bahkan tidak bisa dibayangkan, aduhai !.
Kondisi di atas tentu saja tidak boleh tidak harus dicarikan solusi secepatnya
agar siswa yang menjadi korban kemerosotan pendidikan tidak semakin menumpuk.
Salah satu caranya pemerintah (yayasan bagi lembaga pendidikan swasta) dalam
hal ini memberikan fasilitas maupun sarana dan prasarana ,
baik melalui pedidikan dan pelatihan, work shop, seminar, diskusi, MGMP, kajian
ilmiyah, dan yang tidak kalah pentingnya bahwa alokasi dana pendidikan 20 %
harus betul terialisasi. Insya Allah, apabila hal tersebut berjalan secara berkelanjutan
bagi guru, lambat laun persoalan-persoalan pendidikan akan segera terpecahkan.
Adapun problematika yang seringkali terjadi dalam
dunia pendidikan dapat dirumuskan, antara lain; SDM guru , kompetensi dan skill
guru yang rawan komplain, kurangnya komitmen guru setelah mendapat bisyarah
yang lebih menjanjikan, seperti sertifikasi dan lain-lainnya, etos kerja yang
merosot, tercorengnya kredibelitas guru dengan beberapa kasus, misalnya ;
selingkuh, penyalahgunaan wewenang, tidak disiplin terhadap tugas dan tanggung
jawabnya, tersangkut masalah moral, tidak memiliki motivasi untuk meningkatkan
kreatifitas dan inovasi dalam pembelajaran, sarana dan prasrana yang kurang
memadai, peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik yang slalu berpolemik. Naik
sedikit sbentar-sbentar guru slalu jadi sorotan. Nawaitu minal yaum ! Allahumma
ahsin fi darsina wa darsi talamidhina, amien !
By. Asa_M.Ad
Ghuru ngabdhi e yayasan Al-Irsyad
Tidak ada komentar:
Posting Komentar