Kalau saja saya tidak
mengenal-Mu !
Pagi itu mentari
tersenyum begitu ku sapa
Melintas pada jagat
semesta
Sinarnya mengalirkan
darah dan keringat disekujur nafasmu
Hangat sekali mendekapku
Aku semakin mendekap
Kau ternyata memang dekat
Dan
Ketika waktu masih
diteras rimbun dedaunan yang masih menghijau
Bunganya merekah menuruk
gemerlap kelap
Terasa dinginya
menggigilkan seluruh roh-roh
Di persimpangan muara
tanpa aura
Aku melihatnu sesekali
tersipu
Merajut pesan yang kau
lantunkan di altar-altar doa
Membawa temaram merah
katulistiwa di uufuk maghrib
Menenggelamkan matahari
sambil menyapa malam
Tetapi malam bukan jalan
yang kau singgahi
Untuk tempat
peristerahatan
Tapi numpang lewat
Sambil kutiupkan peluit
masa depan
Kala matahari mulai
menyapa kembali
Andai kau tak lagi disini
Semoga aku tetap bisa
menyapamu
Andai kau tidak lagi
disini
Buatkan aku dermaga untuk
mengarungi rimbun samudra
(entah itu samudra laut
baranta sebagai labuh perjuangan baru itu)
Andai kau tidak lagi
disini
Engkau pasti tahu bahwa
aku lagi butuh tangga
Tuk menemuimu
Di teras keagungan
Andai kau tidak lagi
disini
Panasmu mengeringkan jiwa
Kala segala mufakat untuk
sekarat
Andai kau tidak lagi
disini
Smoga kematian bukan penggantimu
Naudhubillahi min dzalik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar