EMPATI
ATAU ANTIPATI
“Sebuah tinjauan
fenomenologis dan problematis dalam kependidikan”
Akhir-akhir ini dan
bahkan (mungkin) ke depan orang tua akan berlomba-lomba untuk menyekolahkan
putra-putrinya ke lembaga-lembaga pendidikan yang menawarkan nuansa keberagamaan
(taruhlah Al-Irsyad) sebagai basic bagi si “Shaleh atau Shalehah” sebutan cinta
bagi si mungil putra-putrinya untuk bekal menatap dan menapaki zaman yang
seringkali tidak lagi bersahabat dengan
kita. Walaupun dengan mengeluarkan kocek dalam-dalam yang boleh dikatakan tidak
kebilang sedikit untuk ukuran
pendidikan pada ghalibnya. Bahkan di saat pemerintah gencar-gencarnya
menggalakkan pendidikan gratis, sekalipun.
Kekhawatiran orang
tua akan masa depan putra-putrinya merupakan kajian dan fakta otentik yang
dijadikan referensi bagi para orang tua untuk mengawal dengan sungguh-sungguh upaya
membentengi perjalanan hidupnya dengan pendidikan berbasis keagamaan. Pendidikan
yang betul-betul bisa menurunkan tensi kekhawatiran akan fenomena dan problematika
di saat dunia mulai tenggelam di dasar kejahiliyahan abad ini. Kita seringkali
digiring ke sebuah pertunjukan bawah sadar yang mengatasnamakan mode, style,
gaul, modernitas, kecanggihan teknologi dll. Disiinilah keteledoran sering
terjadi berbanding terbalik dengan niat awal para orang tua yang betul-betul
suci. Kecerobohan tidak pernah terasa, atas nama sebuah kasih sayang orang tua pada
putra-putrinya, walaupun kasih sayangnya adalah kasih sayang semu yang terkadang
bahkan seringkali meracuni orang tua dalam mengedukasi putra-putrinya dengan
mengatasnamakan peduli atau kasihan. Sekali lagi atas nama kasihan atau katanya
biar sama dengan tetangga kanan kiri. Persoalannya akan semakin rumit ketika
propaganda sistematis orang-orang yahudi inheren (melekat) pada atas nama mode,
style, gaul, modernitas, kecanggihan teknologi tersebut. Bertambah komplek.
Mode atau gaya selalu tampil dinamis
seiring perkembangan kiblat mode dunia. Perubahannya bagaikan kecepatan kedipan
mata kala sang pemuja menyatakan hasrat cintanya. Kita selalu ditawarkan dengan
inovasi tiada henti. Hari ini mode paris, besok london, lusa brazil begitulah mode akan selalu
berputar sesuai dengan sutradara dari balik layarnya. Parade dari para ahli
mode dunia memusingkan kepala kita dalam memilih sesuai selera pemujanya.
Lantas adakah untuk kita ? para orang tua yang merindukan putra-putrinya
menjadi anak shaleh shalehah dengan tidak terpaksa. Sebuah mode senergitas dengan pemahaman
putra-putri kita yang sejak kecil dikenalkan pada proses pendidikan keagamaan .
Tergantung orang tua ! Kenapa kalimat ini penulis jadikan jawabannya, tentu
saja logis jawaban penulis seperti itu karena
jama’nya orang tua terkadang lupa
pada niat awal bahwa akan mengawal putra putrinya dengan konsepsi keberagamaan
tetapi karena atas nama perkembangan modernitas logika keberagamaan para orang tua
kalah oleh propaganda yang sangat memukau.
Pamekasan,
13 September 2011
Oleh
: ASA_M.Ad
Ghuru ngabdhi e SDIT Al-Irsyad
Pamekasan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar