Senin, 09 April 2012

Karya Ilmiyah


EMPATI ATAU ANTIPATI
“Sebuah tinjauan fenomenologis dan problematis dalam kependidikan”

Akhir-akhir ini dan bahkan (mungkin) ke depan orang tua akan berlomba-lomba untuk menyekolahkan putra-putrinya ke lembaga-lembaga pendidikan yang menawarkan nuansa keberagamaan (taruhlah Al-Irsyad) sebagai basic bagi si “Shaleh atau Shalehah” sebutan cinta bagi si mungil putra-putrinya untuk bekal menatap dan menapaki zaman yang seringkali tidak lagi bersahabat  dengan kita. Walaupun dengan mengeluarkan kocek dalam-dalam yang boleh dikatakan tidak kebilang   sedikit untuk ukuran pendidikan pada ghalibnya. Bahkan di saat pemerintah gencar-gencarnya menggalakkan pendidikan gratis, sekalipun.
Kekhawatiran orang tua akan masa depan putra-putrinya merupakan kajian dan fakta otentik yang dijadikan referensi bagi para orang tua untuk mengawal dengan sungguh-sungguh upaya membentengi perjalanan hidupnya dengan pendidikan berbasis keagamaan. Pendidikan yang betul-betul bisa menurunkan tensi kekhawatiran akan fenomena dan problematika di saat dunia mulai tenggelam di dasar kejahiliyahan abad ini. Kita seringkali digiring ke sebuah pertunjukan bawah sadar yang mengatasnamakan mode, style, gaul, modernitas, kecanggihan teknologi dll. Disiinilah keteledoran sering terjadi berbanding terbalik dengan niat awal para orang tua yang betul-betul suci. Kecerobohan tidak pernah terasa, atas nama sebuah kasih sayang orang tua pada putra-putrinya, walaupun kasih sayangnya adalah kasih sayang semu yang terkadang bahkan seringkali meracuni orang tua dalam mengedukasi putra-putrinya dengan mengatasnamakan peduli atau kasihan. Sekali lagi atas nama kasihan atau katanya biar sama dengan tetangga kanan kiri. Persoalannya akan semakin rumit ketika propaganda sistematis orang-orang yahudi inheren (melekat) pada atas nama mode, style, gaul, modernitas, kecanggihan teknologi tersebut. Bertambah komplek.  
Mode atau gaya selalu tampil dinamis seiring perkembangan kiblat mode dunia. Perubahannya bagaikan kecepatan kedipan mata kala sang pemuja menyatakan hasrat cintanya. Kita selalu ditawarkan dengan inovasi tiada henti. Hari ini mode paris, besok london, lusa brazil begitulah mode akan selalu berputar sesuai dengan sutradara dari balik layarnya. Parade dari para ahli mode dunia memusingkan kepala kita dalam memilih sesuai selera pemujanya. Lantas adakah untuk kita ? para orang tua yang merindukan putra-putrinya menjadi anak shaleh shalehah dengan tidak terpaksa.  Sebuah mode senergitas dengan pemahaman putra-putri kita yang sejak kecil dikenalkan pada proses pendidikan keagamaan . Tergantung orang tua ! Kenapa kalimat ini penulis jadikan jawabannya, tentu saja logis jawaban penulis seperti itu karena  jama’nya  orang tua terkadang lupa pada niat awal bahwa akan mengawal putra putrinya dengan konsepsi keberagamaan tetapi karena atas nama perkembangan modernitas logika keberagamaan para orang tua kalah oleh propaganda yang sangat memukau.

Pamekasan, 13 September 2011
Oleh :   ASA_M.Ad
            Ghuru ngabdhi e SDIT Al-Irsyad Pamekasan
           



Tidak ada komentar:

Posting Komentar