gurah senyummu menyapu panorama
kala kau takdirkan tanah menjadi sekujur nafas
terisya' sendirian di serambi dunia
alam yang kau tamtsilkan adalah tempat beribu-ribu keabadian baru
kemudian kau panjat kembali
tebing-tebing curam kala muhibah sedang berlayar
berdecak
sambil kau memanggilku kembali
ternyata aku belum siap kembali
oh..sirami air keruh yang kuusap
disepanjang trotoar perjalanan ini
dengan maghfiroh-Mu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar