Minggu, 29 April 2012

ibuku bertani

kutelusuri air yang menyerap tanah di petamu
pada gundukan debu yang belum kau cangkuli
namun
tak ada lagi hujan
tak ada lagi tetesan embun pada deretan tanaman dan tumbuh-tumbuhan yang kau panggul sendiri
walaupun kau memetiknya dengan plakat panen raya
dan orang-orang besar
girang bukan kepalang



annanie

begitu banyaknya saudara-saudara kita hidup layak di sekitar rumah kita. hidupnya begitu menyenangkan, jauh dari kesusahan. himpitan dan problem hidup orang lain yang sehari-hari bak nyanyian yang menyayat hidupnya tidak ada dalam kamus hidupnya.

Rabu, 25 April 2012

katamu aku bodoh

katamu saya bodoh
padahal kubisa baca koran dan majalah
katamu aku telme
padahal nilai ipaku tujuh koma lima
lumayan kan
katamu aku ketinggalan
padahal gayaku modis amet
katamu aku lamban
padahal aku yang pertama kali memecahkan angka-angka sulit yang tidak teruraikan
katamu aku blo'on
padahal kukenal semua nama-nama dpr yag terseret foto syur
katamu aku belum tamat esdi
kalau yang ini saya mengakui, tapi bukan itu masalahnya
nilai ppkn dan akhlaku di bawah lima



Orang menyebutku maling

sehari-hari aku diselimuti bayang-bayang yang menyelinap dicelah kursi-kursi besar , konon kata orang kursi empuk itu bukan untuk diduduki orang kampungan, padahal jelas di arsip pengeluaran diseketariat keuangan barang-barang itu milik rakyat, milik teman-temanku yang setiap pagi mandi dan beratap  matahari, teriknya menemaninya sambil mengusap keringat menunggu asupan gisi makan pagi.  ya itulah wajah sebagian teman-teman untuk sekedar mencari makan. masih banyak cerita tentang nasib teman-temanku !  bahkan lebih tragis lagi !
kursi empuk itu
sepertinya tidak ada penghuninya, debu-debu menempel menebarkan bau apek
temanku menimpali; bukan tidak ada penghuninya coba tanya lagi........
huuyyy bagaimanaaaaaaaa ?
katanya
pemilik kursi itu tidur pulas
mencium keningnya
entah mimpi apa ?
moga saja kami-kami yang datang 

Senin, 23 April 2012

jangan panggil aku penyair

kalau kau panggil D. Zawawi Imron sastrawan
karena celuritnya memintal qalam
kemudian menangkap ratusan kata
menjadi buih yang melaut pada bait-bait kehidupan
auranya menusuk kelam
muncrat di tanah katulistiwa
bahkan diseluruh benua melayarkan selaksa samudra syi'iran
tapi
buat aku
jangan kau coba memanggilku bulan
karena bulan adalah panggilan penyair
yang ada diatas dahan

di ujung iftitah


 
kala kuselami dirisendiri
di pesisir kedalaman

kudapati pasir yang berserak
diantara bunga karang yang terdampar 

begitu tanah ini kukeruk untuk tempat berteduh
ada beliung yang melingkar pada seutas doa

berurai-urai kuntum doa
yang menjuntai dikulum sendiri oleh gelombang
berhamburan menyapa karang
berserakan dibantalan ombak yang semakin dalam

Minggu, 22 April 2012

menyebutmu sayang


di patemon
lalu lalang angin diberanda pohon bambu
menerpa wajah yang terbawa arus sungai patemon
hantaran gemericik air berdebar memutus tali temali
yang terjerat sampan yang sedang bersandar
airnya membasahi denyut nadi yang kau hentakkan dari nafasmu sendiri 
di patemon
aku betul-betul bersandar 
sambil menyebutmu sayang


Kau Memanggilku

gurah senyummu menyapu panorama
kala kau takdirkan tanah menjadi sekujur nafas
terisya' sendirian di  serambi dunia
alam yang kau tamtsilkan adalah tempat beribu-ribu keabadian baru
kemudian kau panjat kembali
tebing-tebing curam kala muhibah sedang berlayar
berdecak
sambil kau memanggilku kembali
ternyata aku belum siap kembali
oh..sirami air keruh yang kuusap
disepanjang trotoar perjalanan ini
dengan maghfiroh-Mu

Rabu, 11 April 2012

menata laut

kusibak tirai pada patahan karang yang menggelombang
menderu puluhan pulau dalam samudera
kadang aku terlempar dari tampar sampan
yang membawa ikan 
untuk sanak-sanakku yang berebutan angin
sambil menatap wajahku pilu
dipinggir pantai tempatku membagi
antara siang dan malam

Kalau saja saya tidak mengenal-Mu !


Kalau saja saya tidak mengenal-Mu !

Pagi itu mentari tersenyum begitu ku sapa
Melintas pada jagat semesta
Sinarnya mengalirkan darah dan keringat disekujur nafasmu
Hangat sekali mendekapku
Aku semakin mendekap
Kau ternyata memang dekat

Dan
Ketika waktu masih diteras rimbun dedaunan yang masih menghijau
Bunganya merekah menuruk gemerlap kelap
Terasa dinginya menggigilkan seluruh roh-roh
Di persimpangan muara tanpa aura

Aku melihatnu sesekali tersipu
Merajut pesan yang kau lantunkan di altar-altar doa
Membawa temaram merah katulistiwa di uufuk maghrib
Menenggelamkan matahari sambil menyapa malam
Tetapi malam bukan jalan yang kau singgahi
Untuk tempat peristerahatan
Tapi numpang lewat
Sambil kutiupkan peluit masa depan
Kala matahari mulai menyapa kembali

Andai kau tak lagi disini
Semoga aku tetap bisa menyapamu
Andai kau tidak lagi disini
Buatkan aku dermaga untuk mengarungi rimbun samudra
(entah itu samudra laut baranta sebagai labuh perjuangan baru itu)
Andai kau tidak lagi disini
Engkau pasti tahu bahwa aku lagi butuh tangga
Tuk menemuimu
Di teras keagungan
Andai kau tidak lagi disini
Panasmu mengeringkan jiwa
Kala segala mufakat untuk sekarat
Andai kau tidak lagi disini
Smoga kematian bukan penggantimu
Naudhubillahi min dzalik

Selasa, 10 April 2012

Silsilah Laut

orang-orang pinggiran melaut
melintasi ombak menerjang badai
mendayung angin dibawah teriakan panas
peluh dari sekujur tubuhnya meronta-ronta
membasahi pori-porinya sambil menengadah
oooohhhh
itulah kabut dan kelam
pertanda akan hujan
padahal orang pinggiran masih ditepi pantai

Senin, 09 April 2012

Karya Ilmiyah


EMPATI ATAU ANTIPATI
“Sebuah tinjauan fenomenologis dan problematis dalam kependidikan”

Akhir-akhir ini dan bahkan (mungkin) ke depan orang tua akan berlomba-lomba untuk menyekolahkan putra-putrinya ke lembaga-lembaga pendidikan yang menawarkan nuansa keberagamaan (taruhlah Al-Irsyad) sebagai basic bagi si “Shaleh atau Shalehah” sebutan cinta bagi si mungil putra-putrinya untuk bekal menatap dan menapaki zaman yang seringkali tidak lagi bersahabat  dengan kita. Walaupun dengan mengeluarkan kocek dalam-dalam yang boleh dikatakan tidak kebilang   sedikit untuk ukuran pendidikan pada ghalibnya. Bahkan di saat pemerintah gencar-gencarnya menggalakkan pendidikan gratis, sekalipun.
Kekhawatiran orang tua akan masa depan putra-putrinya merupakan kajian dan fakta otentik yang dijadikan referensi bagi para orang tua untuk mengawal dengan sungguh-sungguh upaya membentengi perjalanan hidupnya dengan pendidikan berbasis keagamaan. Pendidikan yang betul-betul bisa menurunkan tensi kekhawatiran akan fenomena dan problematika di saat dunia mulai tenggelam di dasar kejahiliyahan abad ini. Kita seringkali digiring ke sebuah pertunjukan bawah sadar yang mengatasnamakan mode, style, gaul, modernitas, kecanggihan teknologi dll. Disiinilah keteledoran sering terjadi berbanding terbalik dengan niat awal para orang tua yang betul-betul suci. Kecerobohan tidak pernah terasa, atas nama sebuah kasih sayang orang tua pada putra-putrinya, walaupun kasih sayangnya adalah kasih sayang semu yang terkadang bahkan seringkali meracuni orang tua dalam mengedukasi putra-putrinya dengan mengatasnamakan peduli atau kasihan. Sekali lagi atas nama kasihan atau katanya biar sama dengan tetangga kanan kiri. Persoalannya akan semakin rumit ketika propaganda sistematis orang-orang yahudi inheren (melekat) pada atas nama mode, style, gaul, modernitas, kecanggihan teknologi tersebut. Bertambah komplek.  
Mode atau gaya selalu tampil dinamis seiring perkembangan kiblat mode dunia. Perubahannya bagaikan kecepatan kedipan mata kala sang pemuja menyatakan hasrat cintanya. Kita selalu ditawarkan dengan inovasi tiada henti. Hari ini mode paris, besok london, lusa brazil begitulah mode akan selalu berputar sesuai dengan sutradara dari balik layarnya. Parade dari para ahli mode dunia memusingkan kepala kita dalam memilih sesuai selera pemujanya. Lantas adakah untuk kita ? para orang tua yang merindukan putra-putrinya menjadi anak shaleh shalehah dengan tidak terpaksa.  Sebuah mode senergitas dengan pemahaman putra-putri kita yang sejak kecil dikenalkan pada proses pendidikan keagamaan . Tergantung orang tua ! Kenapa kalimat ini penulis jadikan jawabannya, tentu saja logis jawaban penulis seperti itu karena  jama’nya  orang tua terkadang lupa pada niat awal bahwa akan mengawal putra putrinya dengan konsepsi keberagamaan tetapi karena atas nama perkembangan modernitas logika keberagamaan para orang tua kalah oleh propaganda yang sangat memukau.

Pamekasan, 13 September 2011
Oleh :   ASA_M.Ad
            Ghuru ngabdhi e SDIT Al-Irsyad Pamekasan
           



Jumat, 06 April 2012

Pidato


Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillahi rabbil alamin, as-shalatu was- salamu ala nabiyyina Muhammad wa ala alihi wa shahbihi ajma’ien. Amma ba’du

Bapak, ibu guru yang saya ta’dzimi !
Teman-temanku sekalian yang saya cinta sayangi !

Mengawali pidato kali ini mari, kita sejenak mengumandangkan tahmid syukur al-hamdulillah dimana pada kesempatan ini kita semua ditaqdirkan oleh Allah ber-muwajahah, ber-muashalah di tempat yang penuh barakah ini dalam rangka kajian ke-Islaman  yang diprakarsai oleh keluarga besar siswa (i) SDIT Al-Irsyad Pamekasan
Shalawat serta salam kami haturkan kepada baginda Rasulillah Muhammad ibni Abdillah, semoga ummatnya selalu mendapatkan syafaat sampai yaumil qiyamah menjadi penghuni-penghuni syurga dengan ridha-Nya. Amien
Teman-temanku sekalian yang saya cinta sayangi !
Adapun hal yang terpenting mengapa pada kesempatan yang sangat berbahagia ini saya berdiri di hadapan para hadirin, tentunya ingin mengajak kalian bersama-sama sepakat mengantarkan  almamater kita yang tercinta ini, SDIT Al-Irsyad Pamekasan menjadi “Sekolah Asri” sekolah yang tata kelola lingkungan yang ada di dalamnya ditata sebaik mungkin, serapi mungkin, seindah mungkin, dan sebersih mungkin. Setujuuu !

Bapak, ibu guru yang saya ta’dzimi !
Teman-temanku sekalian yang saya cinta sayangi !

Beberapa waktu yang lalu Dinas Pendidikan Kabupaten Pamekasan mengadakan pemetaan sekaligus penilaian terhadap keberadaan lingkungan sekolah dan sekitarnya. Para penilai meyeleksi sekolah-sekolah yang layak menjadi yang terbaik. Kriteria utama menjadi sekolah terbaik sangat-sangat sederhana. tetapi sebagian besar sekolah yang ada di Pamekasan masih banyak belum memenuhi syarat menjadi sekolah yang terbaik tersebut. Paparan dari para pengevaluasi menyebutkan bahwa sekolah yang layak menjadi the best adalah sekolah yang betul-betul secara konsisten menjaga “kebersihan sekolah dan lingkungan” sebaik mungkin, serapi mungkin, seindah mungkin, dan sebersih mungkin.
Bagaimana dengan sekolah kita !
Sekolah kita masih belum menjadi sekolah yang terbaik, tetapi bukan tidak mungkin. kedepan kita akan menjadikan sekolah ini sebagai sekolah idaman sebagai sekolah jujukan. kalau sekolah kita saat ini masih belum memiliki predikat sekolah bersih tentu saja kita harus banyak berkaca dan introspeksi  !
Coba kita ingat dan lihat  !
seringkali lingkungan sekolah kita berceceran, berserakan sampah-sampah dari tangan-tangan jahil kita dan teman-teman kita. Kalau begitu kotor apa tidak kotor ?!
itulah potret  sekolah kita sekarang . Kesadaran belum betul-betul tertanam pada diri kita semua. Mata kita selalu disesakkan dengan pemandangan yang tidak baik yang berakibat datangnya berbagai macam penyakit.

Bapak, ibu guru yang saya ta’dzimi !
Teman-temanku sekalian yang saya cinta sayangi !

Maka seyogyanyalah mulai sekarang kita bekerja sama dan sama kerja  untuk mencapai tujuan yang kita inginkan  , yaitu   “Sekolah Asri” sekolah yang tata kelola lingkungan yang ada di dalamnya ditata sebaik mungkin, serapi mungkin, seindah mungkin, dan sebersih mungkin.
Insya Allah !
Yakin..Yakiiin…tentu saja sangat yakin.
Hal lain yang bisa kita ambil manfaat dari sekolah yang bersih adalah terciptanya murid-murid  sehat yang terhindar dari berbagai macam penyakit. Kalau badan kita sehat belajar akan lancar, belajar akan nyaman, belajar akan tentram dan tenang. Dan jangan lupa apabila sekolah kita betul-betul menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya. Tidak mustahil tahun yang akan datang, kita yakin SD Negeri Trasak II Kec. Larangan betul-betul bisa meraih predikat sokolah terbaik bidang kebersihan. amien
Sedari kita masih menjadi siswa-sisi di sekolah ini mari kita jaga kebersihan.

Bapak, ibu guru yang saya ta’dzimi !
Teman-temanku sekalian yang saya cinta sayangi !

Sebelum saya mengakhiri pidato pada kesempatan ini, saya banyak berharap kepada kita bersama keluarga besar siswa (i) SDIT Al-Irsyad untuk bersemangat mengawal kebersihan dilingkungan sekolah tercinta ini.
Kurang lebihnya saya minta maaf tiada tara. bila dari awal sampai akhir pidato ini terdapat kekeliruan-kekeliruan.

Billahit Taufiq Wal Hidayah
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Oleh :     Abdussamad, S.Ag                         

DOA


Di pelosok  desa dan kota
di pegunungan dan di tepi pantai
Malam kian merajut dan menyisir bongkahan-bongkahan kelam
Angin meliuk-liuk berhembus merayap pada keheningan
Menebarkan sayup-sayup nyanyian burung hutan
melintas dibilik jendela
Ketika insan manusia purna dalam peristirahatan
setelah seharian mengembala
atas nama cita dan doa

Wahai manusia
pada malam itu ada banyak hikmah dan pelajaran
yang terbentang pintu-pintu langit
Rahmat-Nya Yang Maha Luas
itulah seperempat malam
sebuah pergantian beribu-ribu malaikat
yang dibumi melangit
dan dilangit membumi
makna keagungan dan maqom
penuh rahmat-Nya

Karya Ilmiyah


Kenapa Guru slalu jadi Kambing hitam ?
(sebuah koreksi bagi penulis, setelah sekian lama menjadi pendidik)

Lembaga kependidikan merupakan salah satu model, sarana, referensi pembelajaran yang dijadikan acuan bagi guru maupun calon guru dalam mengemban tugas dan kewajibannya sebagai tenaga pendidik. Diupayakan dengan adanya lembaga kependidikan guru maupun calon guru dapat meningkatkan wawasan tentang kependidikan dari waktu ke waktu yang selalu dinamis berkembang seiring perkembangan Ilmu Pengetahuan, teknologi, dan informasi, terlambat sedikit saja guru dalam mengakses perkembangan pendidikan dan on act, terutama dalam tata cara menjadi pendidik yang kompeten, bisa-bisa guru akan tergelincir atau set-back dalam setiap pembelajaran yang diberikan kepada siswanya. Seorang pendidik paling tidak harus selalu dapat memberikan illustrasi, ilham, serta kontribusi bagi guru yang lain lebih-lebih kepada murid dalam mempersiapkan mode-style  pembelajaran substantif plus dengan pendekatan PAKEMInya yang bisa mengantarkan siswa pada tercapainya prestasi terbaik, terbaik tidak hanya dalam konteks jasadiyah semata, tetapi juga harus dipahami dalam perspektif twin aut comenya (ukhrawi dan dunyawi).
Kondisi riil pendidikan dan pendidik akhir-akhir ini begitu memprihatinkan, keadaan ini didasarkan pada survei tingkat keberhasilan pendidikan di Indonesia berada pada peringkat 122 di antara 130 negara di dunia. Keberhasilan ini tentu saja masih jauh dari harapan kita bersama, Indonesia masih jauh tertinggal di belakang, walaupun sebenarnya Indonesia menyimpan mutiara manikam siswa-siswa terbaik dunia karena geniusitasnya, tentu cukup menentramkan buka ?!. Fenomena tertinggalnya secara universal pendidikan kita diatas ratusan juta anak-anak Indonesia disebabkan karena pendidikan kurang mendapatkan porsi dan prioritas dari pemerintah dan masyarakat (juga guru) untuk betul-betul  ditangani secara komprehensif dan berkesinambungan. Guru dalam hal ini memiliki kontribusi yang besar atas merosotnya peningkatan dan keberhasilan pendidikan di Indonesia khususnya di kabupaten Pamekasan. Walaupun sekali lagi penulis kemukakan bahwa Indonesia adalah negaranya anak-anak yang genius yang sudah diakui dunia (baca jawa pos bulan Nopember 2011)  Ada beberapa faktor sehingga guru bisa dijadikan kambing hitam dalam kemerosotan pendidikan, antara lain ; SDM guru yang ?, kompetensi, skill, komitemen, etos kerja, kredibelitas, disiplin, moralitas, kreatifitas, serta inovasi guru yang kian stagnan bahkan tidak bisa dibayangkan, aduhai !. Kondisi di atas tentu saja tidak boleh tidak harus dicarikan solusi secepatnya agar siswa yang menjadi korban kemerosotan pendidikan tidak semakin menumpuk. Salah satu caranya pemerintah (yayasan bagi lembaga pendidikan swasta) dalam hal ini memberikan fasilitas maupun sarana dan prasarana , baik melalui pedidikan dan pelatihan, work shop, seminar, diskusi, MGMP, kajian ilmiyah, dan yang tidak kalah pentingnya bahwa alokasi dana pendidikan 20 % harus betul terialisasi. Insya Allah, apabila hal tersebut berjalan secara berkelanjutan bagi guru, lambat laun persoalan-persoalan pendidikan akan segera terpecahkan.
Adapun problematika yang seringkali terjadi dalam dunia pendidikan dapat dirumuskan, antara lain; SDM guru , kompetensi dan skill guru yang rawan komplain, kurangnya komitmen guru setelah mendapat bisyarah yang lebih menjanjikan, seperti sertifikasi dan lain-lainnya, etos kerja yang merosot, tercorengnya kredibelitas guru dengan beberapa kasus, misalnya ; selingkuh, penyalahgunaan wewenang, tidak disiplin terhadap tugas dan tanggung jawabnya, tersangkut masalah moral, tidak memiliki motivasi untuk meningkatkan kreatifitas dan inovasi dalam pembelajaran, sarana dan prasrana yang kurang memadai, peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik yang slalu berpolemik. Naik sedikit sbentar-sbentar guru slalu jadi sorotan. Nawaitu minal yaum ! Allahumma ahsin fi darsina wa darsi talamidhina, amien !

By. Asa_M.Ad
Ghuru ngabdhi e yayasan Al-Irsyad