Suatu hari teman istri
saya bercerita tentang implementasi
seputar ke BK-an di lembaganya, kebetulan keduanya sama-sama guru BK di
lembaganya masing-masing. Keduanya klop membicarakan hal tersebut, sharing
tentang Bimbingan dan Konseling. Bertukar informasi dan penemuan terkini tentang
ke BK-an mutlak diperlukan bagi guru BK dan berusaha meng-updatenya. Seiring
dengan berkembang pesatnya manefestasi ke-Ilmuan dalam segala bidang terutama
bidang sains dan teknologi.
Guru BK harus bisa
mengakselerasi diri dan up to date tentang management BK dalam berbagai
kesempatan, berbagai cara bisa dilakukan dalam membenahi kekurangan pelayanan dan
meningkatkan bimbingan serta pelayanan secara simultan dan beriringan. Tidak
cukup hanya merekap daftar absensi
kehadiran siswa setiap hari atau memanggil siswa yang bermasalah dengan guru
mata pelajarannya. sangatlah banyak tanggung jawab lain seorang guru BK,
terutama dalam bimbingan dan konseling untuk menumbuh kembangkan minat dan
keahlian siswa. Kalau usaha dan upaya tersebut tidak dimaksimalkan sedini
mungkin bukan tidak mungkin pula guru BK akan ketinggalan kesempatan memberikan
yang terbaik kepada siswa-siswinya. Lebih parah lagi murid menelikung gurunya
ditikungan karena ketidaksigapan guru dalam membimbing dan memberikan pelayanan.
Siswa bisa berbuat apa saja yang diinginkannya tanpa memikirkan akibat dari
perbuatannya. Ingat siswa-siswa tersebut ada masanya memasuki dunia diluar
kemampuan berprikir dan prilaku disebabkan emosi yang tidak terkontrol. kesempatan itu tidak akan terulang kembali !
rasa-rasanya begitu naif ketika guru BK kurang care terhadap perkembangan emosi
anak didiknya.
Membicarakan Ke BK-an,
sejatinya guru BK hanya menangani Bimbingan dan Konseling di kantor BK di
sekolah masing-masing atau bila ada komitmen bersama di luar jam sekolah sesuai
kesepakatan, tetapi ceritanya lain ketika persoalan yang berkembang bergeser pada problem solving yang pol
(mentok) hampir pada titik nadir. Orang tua sering kesulitan bahkan mati kutu
ketika dihadapkan pada persoalam pelik dan rumit yang dihadapi putra-putrinya,
tidak sedikit pula orang tua yang stres
bahkan sering memberikan solusi yang tidak edukatif terhadap persoalan
putra-putrinya. Tidak ada orang tua yang menginginkan putra-putrinya mengalami
endemik dalam perpektif kekinian yaitu kegalauan. Makna penyakit ini meramaikan
hiruk pikuk penyakit kegalauan dalam kontek yang lebih luas, parahnya lagi
dengan penyakit ini moralitas akan semakin porak poranda di gilas akibat emosi
yang rapuh tidak bersandar pada perspektif keimanan dan keihsanan yang
sejatinya sudah diajarkan dibangku-bangku sekolah dasar bahkan dari buaian
orang tuanya.
Pandai-pandailah
Memasang Mata
Bagi guru BK bersikap
positif pada siswa dan orang lain bukan saja bisa melestarikan kehidupan ini
dengan nilai-nilai yang syar’i sesuai anjuran Rasulullah. Begitu indah
nilai-nilai positif thingking bila menjadi sendi utama dalam pola pikir setiap manusia. Kita semua
bisa beriringan memadu kesepahaman menuju masa depan yang cemerlang bagi setiap
siswa pun juga orang lain, bahkan lebih jauh lagi, menurut konsepsi dunia medis
modern berpikir positif akan menghindari stres, menormalkan aliran darah, serta
menghindari pelakunya dari penyakit jantung. MasyaAllah !
Tetapi dan tentu boleh
saja kita kita berargumen bahwa berbekal positif thinking pada siswa adalah
keharusan mutlak untuk memupuk harga diri siswa menemukan gairah dan
ghirah dalam mengejar cita-cita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar